RANKING OH RANKING

Sebenarnya gak sedang ingin membahas dunia per-rankingan. Hanya saja jari ini gatal sekali untuk mengetik untaian kata yang kadang seakan menumpuk sekali di kepala namun sering tak tereksekusi dengan baik. Iya, saya suka menulis, tapi saya sekaligus dilahirkan dengan kecipratan watak pemalas. Jadi untuk menulis pun kadang sangat malas sekali. Nah, tempo hari sebenarnya topic tentang ranking pastinya hot news sekali ya. Apalagi sesaat sebelum atau pun setelah anak-anak sekolah menerima raport. Akan tetapi berhubung moodnya belum nongol-nongol dan juga saya lagi menikmati cuti yang sangat panjang rasa-rasanya untuk membuka laptop itu sungguh butuh effort maksimal. Baiklah, mumpung masih ada sisa beberapa menit sebelum absen finger siang, dan mumpung otak masih bisa untuk berpikir, saya akan berceloteh sebentar tentang ranking dari sudut pandang saya. Seberapa pentingkah ranking dalam hidup kita? Jadi kenapa banyak orang terutama ibu-ibu termasuk saya(dahulu) menganggap ranking itu penting adalah :
1.    Ranking adalah tentang prestasi. Mungkin akan banyak yang kontra akan hal ini. Namun sesederhana itulah saya dahulu berpikir. Menurut hemat saya anak sekolah dengan ranking bagus adalah anak yang berprestasi. Kala itu saya sekolah di desa. Belum banyak  kompetisi macam olimpiade sains, matematika, maupun berbagai macam kompetisi dalam hal soft skill, olahraga, seni dan sejenisnya.  Sehingga ranking di kelas adalah salah satu cara sederhana untuk mengukur prestasi seorang anak. Tentu akan tidak begitu relevan jika dijadikan tolak ukur di jaman milenial seperti saat ini. Pasalnya saat sekarang beraneka ragam sekali lomba, kompetisi yang mampu mengasah kemampuan anak baik akademis maupun non akademis. Dari sana akan muncul si juara olimpiade, si macan festival nyanyi, si model cilik, calon atlet berbakat, bahkan pretasi dalam hal religi pun juga banyak, juara MTQ, si juara dai cilik, kampiun tahfid dan lain-lain. Kejuaraan-kejuaraan yang beraneka ragam itu membuat kita semakin menyadari bahwa prestasi tak hanya di bidang akademik saja, namun sangat beragam. Setidaknya itulah yang semakin menyadarkan saya betapa prestasi tidak hanya tentang ranking di sekolah saja.
2.    Ranking adalah kebanggaan. Zaman saya sekolah dulu, ketika ranking saya bagus tentu orang tua saya terutama ibu saya akan sangat bahagia dan bangga sekali. Saya rasa saat ini pun para orang tua juga akan tetap merasakan hal yang sama. Bedanya jaman dulu kebahagiaan, kebanggaan itu diwujudkan dalam percakapan antara keluarga, percakapan antara teman-teman dan kolega orang tua saja. Jadi kalau si orang tua menyampaikannya biasa saja atau diperhalus dengan kalimat bersyukur tentu lawan bicara pun tak akan berani mengecap sombong apalagi nyinyir. Bagaimana dengan sekarang? Sudah menjadi hal yang lazim jika kebahagiaan ataupun sebagian kecil bahkan sebagian besar dari kehidupan kita bisa dikonsumsi oleh khalayak umum. Iya, update statuslah, story di medsos, upload foto sudah jamak kita jumpai di masyarakat kita. Pun demikian halnya dengan raport anak, ranking anak. Contoh, biar lebih epic kita buat narasi ya ibu-ibu..hehee…Suatu pagi yang cerah, seorang ibu muda dengan dandanan yang flawless, baju yang matching dengan jilbab atau pun tas sepatunya, melangkahkan kakinya dengan mantab menuju ruang kelas si anak. Dengan senyum mengembang si ibu muda itu pun duduk di deretan kursi antrian para ibu-ibu lain yang juga sedang mengantri mengambil raport anaknya. And a few moment later, dengan wajah sumringah si ibu muda itu keluar dari ruang kelas anaknya, cipika cipika sejenak, berhai-hai dengan ibu-ibu yang lain, dan tentu saja selfie dong dengan para wali murid itu, diakhiri dengan kata pamit dan satu persatu ibu-ibu itu pun pulang ke rumah masing-masing. Sampai di rumah, raport dikeluarkan, cekrek-cekrek raport, oh no, tak sabar sampai di rumah, di parkiran, atau di perjalanan pulang sudah cekrek-cekrek raport anaknya, srettt update status dong, Alhamdulillah sudah terima raport bla bla bla…Srettt…share lagi foto selfi bareng ibu-ibu tadi di depan kelas, kasih caption dong ciin..with emak-emang rempong kelas jerapah..hihihii…Begitu tiba giliran membuka raport, wow… amazing, anakku nilainya gemilang, dan kata guru di sekolah tadi si anak mempunyai nilai tertinggi dong di kelasnya (bahasa halus dari kata ranking satu, karena sejatinya di kurtilas ini sudah tidak ada kolom ranking di raport siswa)…baiklah, srettt, kasih caption lagi, “nggak sia-sia belajar pagi, siang, malam, usaha tak mengkhianati hasil, selamat anakku kamu masih ter the best di kelas.” As simple as that…tetapi banyak pasang mata yang membacanya. Efeknya? Tentu jauh lebih banyaklah daripada jaman saya kecil dulu. Kalau dulu paling banter saya diselametin saudara-saudara yang kebetulan diajak ngobrol ibu saya tentang nilai saya, teman-teman kerja ibuk yang memang jadi keluarga kedua bagi ibu saya. Paling ngetop dibeliin kue bolu emprit sama simbah saya..(ah jadi kangen mbah putri, hiks). Kalau sekarang, tiba-tiba abang sayur langganan japri, “wah anaknya pinter ya buk, ranking satu kan?” Terus tetangga depan rumah ikutan japri, selamat ya mbak, emang buah gak jatuh jauh dari pohonnya, ranking satu lagi ya?” Semua teman, saudara, kolega, kenalan yang sudah friends di aneka medsos kita tahu semua…yang nyinyir?Saya yakin ada, walau mungkin lebih banyak yang “iri’, iya iri karena anaknya mungkin tidak ranking satu, anaknya mungkin nilainya sedang tidak bagus, dan seterusnya. Tapi apakah itu membuat kita jera upload di semester depannya? Ah, anak snediri ini, perlu dong usahanya kita apresiasi, siapa tau jadi inspirasi buat yang lain, ye kan..
3.    Ranking adalah tolak ukur
Saya yakin dengan perkembangan pola pikur, pemahaman, pengetahuan, tentu saja tak sedikit orang tua yang tak lagi menjadikan ranking sebagai tujuan utama, atau pun kalau anak memang ranking satu tak serta merta mengsharenya di medsos. Mereka berpikir, bahwa kebahagiaan, rasa bersyukur adalah urusan hati, jadi mereka simpan eratlah kebahagiaan itu dalam hati mereka. Mulia sekali ya mereka? Ah, ini bukan masalah mulia atau tidak mulia. Ini hanyalah masalah pilihan dan kemampuan hati untuk menahan apa yang mereka rasakan tak serta merta menjadi konsumsi publik aja.  Kira-kira begitu kata mereka.  Lalu, buat apa anak ranking bagus, tapi hanya disimpan sendiri, bukankah penting juga dishare untuk menyemangati orang tua lain dalam mendampingi belajar anak-anak mereka?  Mungkin mereka juga pernah berpikir demikian, namun mereka lebih memilih untuk memahami ranking sebagai tolak ukur saja. Tolak ukur apaan sih? Tolak ukur untuk menilai seberapa jauh pemahaman anak akan ilmu-ilmu yang telah diserapnya, kelebihan apakah yang harus dimaksimalkan lagi dari si anak, kekurangan apakah yang barangkali bisa diperbaiki ke depannya, dan tolak ukur yang jamak adalah, anakku di kelas di posisi mana sih? Apakah grade atas, menengah, atau bawah? Jadi mereka merasa bahwa ranking tetap harus kita ketahui, biar bisa pasang kuda-kuda untuk semester depannya .(emangnya perang yak)
4.    Ranking hanyalah angka
Kira-kira orang tua yang berpikir ranking hanya angka banyak nggak ya? Mungkin saja tidak banyak, belum banyak, tapi pasti ada. Mereka golongan orang yang santuy aja menemui ranking anaknya. Toh hanya angka saja, tidak ada korelasinya dengan prestasi yang lain, apalagi dengan attitude, atau pun akhlak si anak. Bahkan sebagian dari mereka berpikir sangat visioner, ranking tak menjamin kesuksesan di masa depan. Yang terakhir ini mungkin akan mulai banyak yang menganut madzab ini, apalagi mas mentri kita pun juga menyampaikan hal yang sama. Walaupun tetap tidak bisa dipungkiri, bahwa mereka yang saat ini mapan banyak juga yang saat sekolah mereka mempunyai ranking yang bagus di sekolahnya. Eh tapi saya punya cerita, ada teman, langganan ranking 1 saat SD hingga SMP, lalu melanjutkan di SMA favorit, ternyata dalam perjalanan hidupnya saat ia mulai kuliah mungkin dia merasa salah jurusan, bukan passionnya, alhasil dia pun DO. Sempat terseok-seok, walau akhirnya sekarang sepertinya pelan-pelan sudah mulai menemukan passionnya kembali.(Ah, jadi ini contoh sukses apa nggak ya, jadi pusing sendiri). Sebaliknya ada teman, waktu sekolah dulu rankingnya selalu di grade bawah. Begitu bekerja ternyata dia survive, mapan, punya banyak usaha sambilan, oh ternyata di balik nilai akademisnya yang kurang optimal saat itu, dia adalah sosok yang gigih dan pekerja keras. Jadi, tidak salah kan kalau kemudian ada pemahaman bahwa ranking just a number?

Mohon maaf kalau tulisan saya belepotan, kalau ada yang merasa tersindir maafkan ya, anda tidak sendirian, saya pun juga tersindir kok…glekkk. 

Comments