MENJADI ORANG TUA YANG MENYENANGKAN DI MASA PANDEMI, MUNGKINKAH?
Kondisi
global di masa pandemi sejak awal tahun 2020 tak ayal membuat kehidupan di muka
bumi berjalan berbeda dari biasanya. Tak ketinggalan di Indonesia sejak
pertengahan Maret pemerintah sudah menyatakan kondisi darurat karena pandemi
Covid 19. Awalnya para ahli memprediksi puncak pandemi di Indonesia akan
berlangsung sekitar bulan Juli-Agustus, selebihnya grafik akan mulai menurun.
Namun hingga tulisan ini dibuat nampaknya grafik kasus covid 19 di Indonesia
belum menunjukkan trend menurun.
Lalu,
apa saja yang telah, sedang terjadi dengan kondisi anak-anak kita selama
pandemi ini berlangsung? Otomatis sejak pertengahan Maret anak-anak Indonesia
terpaksa harus mengikuti pembelajaran dari rumah, BDR, daring. Itu semua adalah
kata-kata yang beberapa waktu belakangan ini sering kita dengar. Serba-serbi
pembelajaran daring yang diunggah oleh ibu-ibu di social media sungguh beraneka
ragam. Paling banyak adalah keluhan tentang bagaimana menghadapi anak-anak agar
mereka tidak bosan, agar mereka mau “patuh” dengan orang tua yang merangkap
sebagai guru di rumah. Dari unggahan yang sarkas, unik, lucu, dan bahkan
marah-marah dengan situasi ini membuat kita tersadar bahwa kondisi yang tak tau
kapan akan berakhir ini memang harus membutuhkan “ilmu” untuk menghadapainya.
Bagaimana agar orang tua (kebanyakan ibu) dan anak-anak tetap “waras” dan
bahagia di situasi sulit ini. Dan pertanyaan selanjutnya adalah mungkinkah itu
bisa terjadi? Apalagi jika orang tua sendiri juga tengah menghadapi masalah
yang pelik sebagai imbas dari kondisi pandemi, PHK, penghasilan berkurang
karena WFH, cekcok antara pasangan, kebosanan yang sangat tinggi karena tidak
bisa ke mana-mana sebebas dahulu, dan berbagai masalah lainnya seakan membuat
kita menjadi ragu akan bisa mendidik dan mendampingi anak selama pandemi ini.
Alih-alih
mencari solusi, bagi sebagian orang tua justru berbondong-bondong protes ke
pihak terkait, memaksa untuk pertemuan tatap muka, dan seterusnya. Padahal IDAI(Ikatan
Dokter Anak Indonesia) dalam beberapa kesempatan sudah menghimbau agar
pembelajaran tatap muka sebaiknya dihindari setidaknya hingga akhir tahun 2020
ini. Namun, kita memang tidak bisa memaksakan seseorang mengamini pendapat dari
kalangan profesi tertentu, dan bisa dimaklumi juga kalau beberapa orang tua
merasa tidak puas dengan pembelajaran daring tersebut. Belum ditambah masalah
melonjaknya kuota yang harus digunakan, anak yang jadi terpapar gadget lebih
lama dari biasanya, dan lain-lain. Nah, bagi orang tua yang saat ini masih atau
sedang galau akan kondisi anaknya berikut saya berikan trik agar setidaknya BDR
ini masih bisa kita nikmati dan kita lalui dengan baik.
1. Pahami
dulu kondisi pandemi(tentu saja dengan banyak membaca ya moms) tujuannya agar
orang tua memahami memang belajar tatap muka bukan pilihan terbaik saat ini, dan
bahwa kesehatan adalah nomer satu.
2. Buat
target minimal, jika dulu misalnya anak kelas 1 sd target utamanya adala bisa
calistung disertai dengan memahami beberapa soal tematik yang lumayan aduhai,
cobalah turunkan sedikit target kita, misalnya yang terpenting anak mau
belajar, tidak tertekan, anak mulai rajin beribadah, anak diperbanyak dengan
kegiatan bersifat motoric maupun softskill(olahraga, mewarnai, story telling, bermain
peran, dan lain-lain), masalah hasil adalah menjadi nomer sekian.
3. Menjalin
komunikasi yang baik dengan guru dan pihak sekolah. Ini sangat penting kita
lakukan untuk mengurang benturan atau kesalahpahaman antara orang tua dengan
guru. Kita tahu, bukan hanya orang tua yang pusing, guru pun juga tak kalah
repot menghadapi situasi BDR ini. Komunikasi yang kita bangun bisa dengan
meminta tambahan waktu untuk pengumpulan tugas, manakala anak tiba-tiba
tantrum, atau bagi orang tua yang tetap harus bekerja bisa mengkomunikasikan
agar deadline waktu mengumpul adalah malam hari, karena orang tua hanya mampu
mendampingi belajar manakala sudah pulang dari kerja, atau saran masukan agar
kegiatan BDR bisa lebih menyenangkan bagi semua pihak(anak, orang tua,maupun guru)dan
seterusnya.
4. Dampingi
anak dengan sabar dan telaten, percayalah dua kata ini sangat mudah diucapkan
maupun ditulis namun sulit sekali dilakukan. Oleh karenanya memang harus
dilatih, bisa karena biasa. Jika memang anak sedang tidak mood jangan terlalu
dipaksa, sebaliknya jika orang tua sedang dalam kondisi tidak baik juga jangan
memaksakan untuk mendampingi anak belajar. Akan lebih baik rehat sebentar, kita
buatkan anak minuman atau makanan kesukaannya, kita beri waktu sejenak untuk
dia bisa kembali mood, ingat hal ini harus dengan pemantauan dan perjanjian ya,
misal, nak istirahat 10 menit dulu ya, jangan sampai karena tanpa perjanjian
tiba-tiba waktu sudah sore aja(jadi zonk kan).
5. Membuat
jadwal kegiatan anak. Meski terkesan klise, namun jika dilakukan dengan
konsisten dan dengan jadwal yang realistis(tidak memberatkan anak) lama-lama
akan membuat anak displin, paham waktu, belajar menepati apa yang sudah ada di
jadwal, meminimalkan kegiatan yang tidak penting, sekaligus bisa kita sisipkan
kegiatan non akademik yang ingin kita sampaikan ke anak(motoric, softskill, dan
lain-lain).
6. Belajar
dan belajar. Belajar bagi orang tua di sini adalah belajar dari forum-forum
parenting, misalnya tentang bagaimana bersikap tegas dengan anak tanpa membuat
anak terluka, bagaimana melatih kemandirian anak, bagaimana memotivasi anak, dan
seterusnya. Di era digital ini sungguh jauh lebih mudah kita mendapatkan
informasi tentang itu. Tinggal kita mau tidak membaca, mempelajarinya, dan
tentu saja untuk kemudian kita terapkan pengetahuan yang kita dapatkan itu ke
anak kita.
Selamat mencoba
dan selamat belajar sepanjang hayat, karena menjadi orang tua adalah tentang
bagaimana kita senantiasa harus mengupgrade ilmu parenting kita setiap hari,
semoga kita dan anak-anak senantiasa diberikan kesehatan dan bisa melalui pandemi
ini dengan tetap menjadi pribadi yang menyenangkan.
(Isti Ken Utami,
bukan ahli parenting, kadang masih marah-marah juga ke anaknya, tapi selalu
ingin lebih baik dari kemarin, dengan menulis setidaknya seperti menasihati
diri sendiri, kan malu sudah nulis tapi jauh dari apa yang ditulis…heheee)
Comments
Post a Comment